Setelah hampir seminggu sibuk menjadi SV di PIT HAGI 34, hari sabtu sore saya menyempatkan diri untuk sekedar melepas penat, keluar dari rutinitas, berlibur ke kompleks candi Boko. Posisi Candi Boko sendiri sebelah selatan Candi Prambanan berjarak sekitar 5 KM dari Prambanan. Sebelum sampai di Kompleks Candi Boko, yang ada dalam pikiran saya adalah kompleks candi layaknya Prambanan namun lebih kecil. Sampai di TKP saya sedikit kecewa dan gembira. Kecewa karena ternyata yang saya temukan bukan seperti yang saya bayangkan, gembira karena ternyata stop site yang saya kunjungi kali ini tak lepas dari dongeng-dongeng geologi, melengkapi seri Setiap Batu Punya Cerita beberapa seri sebelumnya.

Kata orang, kompleks Candi Boko ini sering digunakan untuk foto-foto prewe. Ah biarlah, terserah anggapan mereka tentang tempat ini. Satu hal pasti, di tempat ini selain saya dapat liburan, saya juga dapat singkapan menarik seperti halnya di Bayat.

Menurut tour guide saya, candi Boko ini sudah berbeda peradaban dengan Prambanan, Boko adalah sebuah kerajaan yang berdiri sendiri, lepas dari kerajaan pembuat Prambanan. Boko lebih dulu ada daripada Prambanan. Berada di atas bukit, dari Boko saya bisa melihat hampir seluruh Jogja termasuk Gunung Kidul. Sungguh pemilihan tempat yang sangat bagus pada jaman dahulu kala (lebih bagus dari pemilihan Prambanan menurut saya). Satu kalimat yang berani saya katakan, anda tidak akan menyesal melihat pemandangan dari Boko pada pagi hari atau sore hari.

boko-001

boko-002

boko-003

That’s beauty of Ratu Boko. Selanjutnya yang akan saya bahas lebih banyak pada pembentukan  bukit tempat kompleks ini dibangun.

Dari analisis di stop site ini, menurut saya (saya masih agak ragu) di bawah kompleks candi Boko ini mungkin batuan sedimen atau mungkin pyroclastic. Bisa juga kombinasi keduanya.

boko-004

Perlapisannya sudah agak miring, dalam hal ini saya menginterpretasikan telah terjadi deformasi pada lokasi ini berupa pengangkatan, hal ini juga dapat dibuktikan dengan adanya zona-zona sesar tak jauh dari tempat ini.

boko-005

Untuk genesa batuan, saya belum berani menuliskan karena tempat ini complicated bagi saya. Tempat ini bisa dipengaruhi oleh Subduction Zone di sepanjang pantai selatan (yang bagi saya mengindikasikan batuan disini adalah sedimen dari bawah laut yang terangkat), bisa juga dipengaruhi oleh Gunung Merapi (yang dalam hal ini bisa juga merupakan piroklastik). Ah nampaknya saya perlu mendalami petrologi untuk lebih mengenal tempat ini.

Tapi untuk memuaskan petromania, ini saya sertakan foto-foto batuannya.

boko-006

boko-007

boko-008

As conclusion, dari keadaan di Boko, saya bisa menyimpulkan kompleks candi ini dibangun setelah bukit terbentuk. Hal ini dibuktikan dengan penataan batuan yang menyesuaikan kondisi batuan dibawahnya. Batu penyusun candi (yang asli) juga sepertinya mengambil dari batuan disekitar candi Boko. Karena kondisi bumi yang dinamis dan terus bergerak, suatu ketika batuan kembali mengalami pergerakan yang meluluh-lantakkan bangunan candi disini. Jadilah kompleks candi Boko seperti sekarang, pemugarannya belum selesai karena banyak batu candi yang hilang diambil orang, atau bisa juga batu candi sudah hancur karena tergerus pergerakan lapisan batuan, batu candi mengalami pelapukan. Entah lah

Pemilihan tempat yang sangat indah memang menjadi kelebihan candi Boko, namun karena ilmu geologi pada jaman dahulu belum berkembang sampai seperti sekarang, jadilah candi Boko ini banyak yang hancur ditelan keramahan bumi. Orang-orang jaman dahulu belum bisa membaca bukti-bukit zona sesar yang mengindikasikan bahwa tempat ini unstable dan masih terus bergerak.

Tulisan yang masih berhubungan....